Jumat, 08 Juni 2018

Pranata Mangsa Sebagai Tahun Jawa Asli


Tahun Jawa memiliki 12 bulan, 30 nama pekan dan 5 hari dalam sepekan.
Bulan Kasa, bulan pertama pada kalender musim Jawa. Ada 41 hari (21 Juni - 1 Agustus) dimana rasi bintang Sapi Gumarang  mengembang di angkasa tepat di atas kepala. Rasi bintang ini merupakan asli ilmu perbintangan penduduk P Jawa di masa lampau. Masa dimana kebudayaan asing belum mempengaruhinya. Candra : Sotya murca saking embanan ( anak hilang dari gendongan ).

Bulan Karo (kedua), ada 23 hari (2 Agustus - 24 Agustus). Bulan ini mengikuti rasi bintang Tagih mengembang di angkasa tepat di atas kepala. Candra : Bantala Rengka ( Bumi Terbelah ).

Bulan Katelu (ketiga), ada 24 hari (25 Agustus - 17 September) mengikuti rasi bintang Lumbung.
Candra : Suta Manut Ing Bapa (anak menurut ayah).

Bulan Kapat (keempat),ada 26 hari (18 September - 12 Oktober ) mengikuti rasi bintang Jaran Dhawuk. Candra : Waspa Kumembeng Jroning Kalbu (Air mata berlinang dalam batin).

Shio Tikus

Terletak di antara 2 Februari 1984 hingga 19 Februari 1985. Penghitungan selanjutnya bila di atas tahun 1985 tinggal menambahkan 12 tahun dan mengurangi 12 tahun untuk yang di bawah tahun 1984. Misalnya untuk shio tikus sebelum 2 Februari tahun 1984 maka ada di tanggal 15 Februari 1972 hingga 2 Februari 1973 dan untuk tahun sesudah 19 Februari 1985 ada di tanggal 19 Februari 1996 hingga 6 februari 1997, begitu seterusnya.
Watak watak shio tikus bukan berarti seperti tikus, melainkan kehidupan tikus diproyeksikan ke dalam tahun tersebut, bukan watak orangnya seperti tikus. Bukan pula kehidupan tikus lebih menonjol di tahun tersebut, melainkan pola pikir orang di arahkan mengetahui kehidupan tikus baik secara alamiah, ilmiah dan amaliah. Kesimpulannya orang kelahiran shio tikus bukan karakternya seperti tikus atau tahun tersebut dikuasai kehidupan tikus tetapi ISI KEPALA ORANG ORANG di tahun tersebut DI ARAHKAN memperhatikan TIKUS !.
Memang secara alami orang dan tikus memiliki persamaan, diantaranya berdarah panas dan sebagai mamalia.
Namun persamaan tersebut adalah umum untuk klasifikasi makhluk hidup.
Orang tetaplah orang dan tikus tetaplah tikus. Jangan sampai pula di lingkaran reinkarnasi orang berubah menjadi tikus. Untuk menghindari hal tersebut seseorang janganlah membenci tikus. Sayangilah ia seperti makhluk lainnya. Perasaan benci inilah sebenarnya yang menjerumuskan seseorang menjalani jadi tikus di reinkarnasi berikutnya.
Semoga bermanfaat...

Rabu, 06 Juni 2018

Opini Lain Tentang Asal Usul Penanggalan Jawa Kuno

Sepenggal kisah penanggalan Jawa kuno versi blog Gankkoplak memiliki sudut pandang lain daripada yang lain. Hari hari bernama : Kliwon, Legi, Pahing, Pon, Wage ( pasar ). Artinya dalam satu minggu ada 5 hari. Minggu dalam kalender ini disebut wuku. Wuku di sini bukan 7 hari tapi 5 hari. Wukunya ada 30 nama. Sinta, Landep, Wukir, Kurantil, Tolu, Gumbreg, Warigalit, Warigagung, Julungwangi, Sungsang, Galungan, Kuningan, Langkir, Mandasiya, Julungpujut, Pahang, Kuruwelut, Marakeh, Tambir, Medangkungan, Maktal, Wuye, Manahil, Prangbakat, Bala, Wugu, Wayang, Kulawu, Dukut dan Watugunung. Dalam setahun ada 12 bulan berdasar peredaran bintang sehingga jumlah hari sama persis dengan tahun masehi. Bulan pertama Kasa ( seiring munculnya rasi Cancer dan Leo ). Kedua Karo seiring dengan sedikit Leo dan Virgo ). Katelu : Virgo, Kapat : Libra, Kalima : Scorpio, dan seterusnya hingga bulan ke 12 yang bernama Sadha yang bersamaan dengan munculnya rasi Gemini. Meskipun begitu bukan rasi rasi itu yang digunakan sebagai pertanda, tapi rasi rasi lain seperti bintang wulanjar ngirim, gubuk penceng, bintang luku, bintang pari, jadi, sur dan lain lain.

Sejarah Penghitungan Neptu


Neptu dan pasaran adalah watak dan hari dalam kalender Jawa.
Pasaran pahing, pon, wage, kliwon, legi sebenarnya nama hari asli kalender Jawa, sebelum kemasukan budaya Arab Ahad (minggu), Isnaini (senin), Tsalatsa (selasa), Arba'a (rabu), Komsa (kamis), Juma'at (jumat), Saba'at (sabtu). Neptu Jawa pada jaman dahulu dihitung dari huruf Jawa ha na ca ra ka, da ta sa wa la dan seterusnya. Misalnya wage terdiri dari huruf wa dan ga, wa = 4 dan ga = 2, maka neptunya (4+2)-1=5. Tapi perhitungan ini telah berubah sejak masuknya huruf hija'iyah dan ilmu perbintangan dari Timur Tengah.
Hingga saat ini perhitungan neptu ikut perhitungan keraton Mataram.
Kliwon = 8, Legi = 5, Pahing = 9, Pon = 7, Wage = 4.
Adapun sumber penghitungan neptu dari kraton Mataram, tak bisa kami sebutkan di sini...

Asal Usul Shio


Tikus adalah salah satu binatang makanan ular. Jika ular ada lebih dulu dibanding tikus, berarti tikus bukan makanan ular. Dalam kisah Maha Dewa, ular dan Lembu (sapi) menjadi hewan terdekat bagi Maha Dewa. Pada peristiwa rantai makanan, makanan ada terlebih dulu dibanding pemakan. Artinya, sebelum Maha Dewa terejawantah sebagai Syiwa ( Betara Guru/Manikmaya), makanan dan tempatnya (lingkungan) harus ada terlebih dahulu. Sedangkan sebelum makanan dan lingkungan (alam semesta) ada, yang lebih dahulu ada adalah unsur (materi, energi, aturan). Sebelum aturan, energi dan materi, yang terlebih dahulu ada adalah keseimbangan. Keseimbangan menjadi titik pusat semua lingkaran siklus maupun reinkarnasi. Satu tombak bermata tiga inilah cikal bakal dari semua yang ada sekarang ini termasuk shio. Shio terlahir dari salah satu mata tombak trisula bernama aturan. Sebuah aturan yang menguasai segala hal yang berhubungan dengan hewan bekerja sama dengan cabang aturan di kategori waktu, terkurung dalam satuan waktu bernama bulan dan tahun.